“Saya katakan bahwa Pancasila itu hadiah umat Islam kepada Indonesia,”



Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo merasa heran karena kerap mendapatkan pertanyaan ihwal kedekatannya dengan kelompok umat Islam.

“Sejarah TNI memang begitu. Tentara asal-usulnya dari umat Islam,” katanya dalam acara Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah: Islam, TNI, dan Kedaulatan Bangsa di Jakarta, Jumat (6/10/2017) malam.

Gatot bercerita asal usul TNI berasal dari tiga kesatuan militer yang didirikan oleh kaum santri pada 1943 yakni Divisi Mujahiddin, Hizbullah, dan Sabilillah. Setelah kemerdekaan, laskar-laskar ini melebur bersama elemen lain mendirikan Badan Keamanan Rakyat, sebagai cikal bakal TNI.

Menurut Gatot, perjuangan mereka semakin kuat setelah keluarnya fatwa jihad dari kiai. Elan ‘Merdeka atau Mati’ ini terlihat ketika berlangsung Perang 10 Nopember 1945 di Surabaya yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Di sisi lain, mantan Panglima Kodam Brawijaya ini mengatakan pemimpin pertama TNI Jenderal Soedirman juga bekas Komandan Hizbul Wathon dan guru Muhammadiyah. Setelah kemerdekaan, sebagian bekas pejuang itu melanjutkan karir kemiliteran, sisanya kembali menjadi orang sipil.

“TNI sadar betul tak bisa dipisahkan TNI dan umat Islam,” ujarnya.

Gatot pun mengingatkan umat Islam untuk menjaga Pancasila sebagai konsensus dalam berbangsa dan bernegara. Pasalnya, ideologi tersebut juga dirumuskan oleh para kiai yang tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Umat Islam, kata Gatot, menerima sila Ketuhanan Yang Maha Esa guna melindungi umat agama lain di Tanah Air. Dia meminta jangan ada upaya-upaya untuk mengganti dasar negara dengan ideologi lain.

“Saya katakan bahwa Pancasila itu hadiah umat Islam kepada Indonesia,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan Salim Said juga memaparkan peranan umat Islam dalam sejarah perjuangan kemerdekaan. Menurutnya, sebelum konsep mengenai keindonesian dilontarkan pada dekade 1920-an, Islam menjadi konsep perjuangan versus Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang, lanjut Salim, kelompok santri mendominasi rekrutmen kesatuan Pembela Tanah Air yang lantas memegang pucuk TNI pada revolusi kemerdekaan. Namun, pascapengakuan kedaulatan 1949, pejuang berlatar belakang santri memilih keluar dari dunia militer.

“Orang Islam tidak ada budaya kerja sama dengan pemerintah. Jadi yang menguasai tentara kemudian bukan lagi santri,” tuturnya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir meyakini peran umat Islam akan terus ada sepanjang Indonesia berdiri. Meski demikian, dia mewanti-wanti bahwa pada masa mendatang tantangan negeri ini tidak lagi perjuangan fisik tetapi perjuangan intelektual.

“Bangsa yang tanpa keunggulan strategis hanya akan menjadi obyek penderita dari kekuatan manapun dari luar maupun dalam,” ujar Haedar. 

[bc]
loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...