Salim Said: Kirimlah Anak-anakmu ke Akademi Militer



Dalam pengajian bulanan Muhammadiyah yang bertema “Islam, TNI, dan Kedaulatan Bangsa” di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, pengamat militer Salim Said menceritakan konsep “Kita” di Indonesia.

Konsep “Kita”, tuturnya, bermula pada Perang Paderi. Kala itu, kaum Paderi perang melawan kekuatan kaum adat. Penjajah Belanda lalu datang ke sana membantu kaum adat.

“Kaum Paderi melihat yang mereka perangi itu adalah orang Belanda selain orang adat. Mereka merumuskan yang kita lawan ini kafir. Kita ini siapa? Kita ini Islam. Jadi mulailah lahir konsep ‘Kita’,” ujarnya.

Konsep “Kita” ini, lanjutnya, kemudian menular ke Perang Aceh dan Diponegoro. Sejak saat itu ada kata “Kita”. Tapi “Kita” itu baru orang Islam. Karena itu gerakan massal pertama di Indonesia adalah Sarekat Islam. Menurutnya peranan Islam besar sekali dalam sejarah.

“Pertanyaannya buat Anda semua. Anda diminta tidak hanya teriak Allahu Akbar. Apa yang bisa Anda lakukan supaya orang Islam terhormat dan tidak dihinakan di negeri ini?” serunya disambut tepuk tangan jamaah pengajian.

Lebih lanjut, ia bercerita, pada tahun 50-an -ketika Indonesia baru merdeka, semua pemimpin tentara yang dilatih Jepang itu adalah orang Islam.

“Apa kalian pernah tahu ada Komandan Batalion yang tidak pernah pakai celana panjang, (tapi) pakai jubah terus. Namanya Kiai Syam’un di Banten?” ucapnya.

Namun setelah penyerahan kedaulatan, kebanyakan tentara Sabilillah dan Hizbullah berhenti menjadi tentara. Sebab bagi mereka tidak ada budaya bekerja menjadi pegawai pemerintah.

“Jadi yang menguasai tentara kita kebanyakan bukan lagi orang santri. Jadi kalau Anda ingin budaya itu bertahan, kirimlah anak-anakmu ke akademi militer,” pesannya disambut tepuk tangan.

sumber: hidayatullah

loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...