Pemerhati Politik: Tiga Tahun Di Istana, Tagline "Merakyat" Jokowi Hanya Slogan



Jelang tiga tahun pemerintahan Kabinet Kerja, ekspektasi kepada Presiden Joko Widodo yang diidentikkan berpihak kepada rakyat "merekyat" hanya slogan semata.

Demikian pandangan pemerhati politik Panji Nugraha menyoroti sejumlah survei yang merilis sekitar 60 persen rakyat menginginkan presiden baru pada Pilpres 2019.

Merosotnya elektabilitas Jokowi dilihat dari beberapa faktor. Seperti, ekonomi, hukum dan politik yang terus menerus menimbulkan keresahan di publik, terkhusus soal ekonomi rakyat yang tidak kunjung membaik.

"Sehingga sangat relevan dengan keinginan rakyat untuk mempunyai presiden baru di 2019," ujar Panji, Jumat (6/10).

Jadi menurutnya, wajar jika rakyat saat ini menginginkan perubahan dan pemimpin baru. Karena faktanya rakyat masih banyak mengeluh soal mahalnya harga pangan, pajak dan tarif listrik dan hal tersebut yang memicu daya beli masyarakat menurun.

Panji menilai, secara makro ekonomi Indonesia pun tidak berada dalam posisi terbaik sejak era Jokowi dari mulai kepemimpinan Jokowi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya di angka 4 persen sampai 5 persen.

Sehingga, jelas hal tersebut semakin menunjukkan jika kepemimpinan Jokowi tidak mengarah kepada perbaikan ekonomi Indonesia seperti yang digadang-gadang selama ini.

"Maka rakyat akhirnya sudah berkesimpulan dengan berkeinginan mengganti presiden pada 2019," tukas Panji. 

sumber: rmol

loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...