Bareskrim Polri Pastikan 18 Puskesmas yang Diresmikan Djarot Terindikasi Korupsi



Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipikor) Bareskrim Mabes Polri membenarkan 18 Puskesmas yang diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, terindikasi korupsi.

Wakil Direktur Tipikor Mabes Polri, Erwanto Kurniadi, mengatakan penyelidikan dugaan korupsi pembangunan 18 Puskesmas masih berlanjut sampai saat ini.




"Masih tahap penyelidikan ya, belum penyidikan. Sekarang sedang dalam proses koordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)," kata Erwanto ketika dihubungi Wartakotalive.com, Rabu (4/10/2017).

Makanya, kata Erwanto, pihaknya juga belum masuk dalam tahap menentukan siapa yang paling pantas dijadikan tersangka.

Tapi saat ini penyidik sedang memastikan apakah ada perbuatan melawan hukum dan kerugian negara dalam pembangunan 18 Puskesmas tersebut.

Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat meresmikan 18 Puskesmas itu pada Rabu (4/10/2017) siang.

Djarot meresmikannya secara simbolis di Puskesmas Kecamatan Kramatjati, Kota Administrasi Jakarta Timur, Rabu (4/10/2017).

"18 Puskesmas ini merupakan program unggulan dalam RPJMD 2013-2017 sebagai komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mendukung upaya pelayanan kesehatan perorangan yang optimal, preventif, kuratif dan rehabilitatif, dapat diselesaikan tepat waktu," kata Djarot.

Tapi Pengamat Lelang-Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah dari Lembaga Swadaya Masyarakat Perlindungan Hak Masyarakat Indonesia (LPHMI), Gudmen Marpaung, berkomentar negatif terkait pembangunan 18 Puskesmas oleh PT PP Pracetak.

Menurut Gudmen, pembangunan 18 Puskesmas dimulai 2016 dan semestinya rampung pada Desember 2016.

Total dana pembangunan 18 Puskesmas tersebut adalah Rp 207 milliar.

"Tapi saat waktu deadline itu pengerjaan baru 45 persen," kata Gudmen ketika dihubungi Wartakotalive.com, Rabu (4/10/2017).

Gudmen menjelaskan, berdasarkan Pasal 93 ayat 1 Peraturan presiden No 5 tahun 2010 tentang Pedoman Pengadaan Barang Jasa Pemerintah, PPK dapat memutus kontrak apabila berdasarkan penelitian PPK, Penyedia Barang/Jasa tidak akan mampu menyelesaikan keseluruhan pekerjaan walaupun diberikan kesempatan sampai dengan 50 (lima puluh) hari kalender sejak masa berakhirnya pelaksanaan pekerjaan untuk menyelesaikan pekerjaan.

"Kan sudah jelas bahwa PT PP Pracetak (kontraktor) tak bisa menyelesaikannya dalam 50 hari usai tanggal deadline. Baru selesai bulan Juli 2017 ke-18 Puskesmas itu, padahal deadlinenya Desember 2016" tegas Gudmen.

Menurut Gudmen, dalam kondisi itu PPK seharusnya memutus kontrak dengan PT PP Pracetak.

"Disitulah dugaan kongkalikong amat kuat begitu juga adanya indikasi korupsi," kata Gudmen.

Bahkan, kata Gudmen, saat ini kasus tersebut tengah dalam penyelidikan Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipikor) Bareskrim Mabes Polri.

"Itu PPKnya, sampai 18 Puskesmas itu diresmikan Djarot masih bolak-balik diperiksa Dittipikor Bareskrim Mabes Polri," kata Gudmen yang mengaku mendapat informasi dari seorang rekannya di Mabes Polri. 

[tn]
loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...