Tantangan Habibie kepada masyarakat untuk wujudkan pesawat R80



Presiden Ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie menantang masyarakat Indonesia untuk terlibat dalam pengembangan produk dirgantara Indonesia melalui pesawat R80.

Habibie mengingatkan apabila pesawat tersebut tidak segera direalisasikan, sumber daya manusia Indonesia di bidang kedirgantaraan akan lenyap.

"SDM-nya akan habis," kata Habibie dalam video yang diunggah oleh akun bernama "Terbangkan Pesawat Indonesia" di YouTube, yang dipantau hari ini.

Habibie mengatakan bahwa R80 adalah hanyalah awal dari seri pesawat jenis penumpang yang siap dikembangkan. Habibie optimistis Indonesia bisa bergerak jadi negara produsen, bukan konsumen, bila dapat membuktikan kemampuannya membuat dan menerbangkan pesawat sendiri.

"Kalau kita sudah bisa buat N250 dan membuat R80 dan terbang, apa saja kita bisa buat," kata Chairman Regio Aviasi Industri (RAI) itu.

Oleh karena itu, dia mengajak masyarakat Indonesia untk dapat langsung berpartisipasi menyumbangkan uang uguna pengembangan purwarupa pesawat R80. 

Menurut Habibie, gerakan urun dana ini adalah bukti bahwa rakyat Indonesia punya komitmen untuk membangkitkan industri dirgantara.

"Siapa saja, di mana pun Anda berada. Di dalam ataupun luar negeri, ayo ramai-ramai kita sukseskan R80," imbuh Habibie.

Regio Aviasi Industri (RAI) dan platform crowdfunding Kitabisa.com bekerjasama membuka urun dana melalui Kitabisa.com/pesawatR80.

Setiap orang yang memberi donasi untuk proyek pesawat R80 punya kesempatan melihat fotonya ditempel di badan pesawat. Untuk nominal tertentu, penyumbang juga bisa mendapatkan kaos hingga jaket bomber.

Butuh 1,5 miliar dolar

Pengembangan pesawat turboprop R80 rancangan Presiden Ketiga Republik Indonesia BJ Habibie yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN)  membutuhkan dana sebesar 1,5 miliar dolar AS.

PT Regio Aviasi Industri (RAI) yang didirikan B.J Habibie bersama putra sulungnya Ilham Akbar Habibie akan menggarap pengembangan pesawat regional jarak pendek tersebut.

"Dananya 1,5 miliar dolar AS, tetapi 55 persen harus berasal dari dalam negeri. Itu permintaan Pak Habibie. Dana tersebut untuk pengembangan pesawat untuk disertifikasi," kata Deputi Direktur Keuangan Urusan Pendanaan PT RAI Desra Firza Ghazfan pada acara Habibie Festival JI Expo Kemayoranbeberapa awaktu lalu.

Desra menjelaskan kebutuhan dana tersebut hingga kini belum terpenuhi semua. Ada pun pembiayaan R80 sebesar 55 persen berasal dari dalam negeri, antara lain melalui pembiayaan investasi nonanggaran (PINA), swasta nasional, "crowd funding" dan vendor.

Sementara itu, 35 persen pembiayaan berasal dari ASEAN dan 30 persen dari mitra strategis.

Desra memaparkan sejumlah maskapai, seperti NAM Air, Kalstar, Trigana Ais dan Aviastar sudah menyatakan minatnya untuk memesan total hingga 155 unit pesawat R80 melalui "Letter of Interest" (LOI).

Ia merinci pesanan tersebut dari NAM Air sebanyak 100 unit, Kalstar 25 unit, Trigana Air 20 unit dan Aviastar 10 unit.

"Yang dipesan lewat Letter of Interest sudah 155 pesawat dari 222 yang kita perlukan untuk kembali modal. Total yang mau kita produksi sebenarnya ada 600 unit," tutur Desra.

Pesawat R80 yang menggunakan mesin twin-turboprop merupakan jenis pesawat berkapasitas 80 hingga 92 penumpang dengan target pasar menengah regional.

Keunggulan pesawat ini dari pesaing terdekatnya, yaitu ATR-72 yang digunakan Garuda Indonesia, antara lain lebih efisien, nyaman dan ekonomis terutama untuk jarak dekat dengan jarak tempuh 400-800 nautical mile atau sekitar 1400-1500 kilometer.

sumber: rimanews

loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...