Surat dari Rohingya untuk Dunia: Kami Akan Punah



Hidup beberapa generasi di Myanmar tidak menjadikan kehidupan etnis Muslim Rohingya di Myanmar membaik, bahkan terus memburuk. Demokrasi yang baru diterapkan di Myanmar tidak membantu mereka lolos dari persekusi dan diskriminasi.

Seorang warga Rohingya menuliskan suratnya kepada dunia melalui kantor berita Qatar, Al Jazeera, pada Senin (11/9). Tidak ingin disebut namanya karena takut diburu dan dibunuh, penulis surat menceritakan kehidupannya lebih dari 20 tahun sebagai warga Rohingya, warga yang tidak dianggap ada di Myanmar.

Tanpa kewarganegaraan, dia mengatakan "pergerakan saya, pendidikan, akses kesehatan dan karier dibatasi dengan ketat atas dasar etnis". Kehidupan Rohingya di negara bagian Arakan sangat terbatas. Mereka tidak bisa keluar dari Arakan dan menginjakkan kaki di ibu kota Yangon. 

Di mata masyarakat Buddha Rakhine, etnis Rohingya sangat hina dan dikucilkan, ancaman pembunuhan dimana-mana, dan mereka tidak bisa kabur kemana pun. Tindakan umat Buddha di Rakhine ini bahkan dikecam oleh tokoh agama Buddha di Indonesia karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Buddhisme.

"Saya akan gunakan analogi: Bayangkan seekor tikus terperangkap di dalam kandang dengan kucing yang lapar," tulis dia.

Berikut adalah terjemah lengkap surat warga Rohingya tersebut:

Maungdaw, Negara Bagian Rakhine, Myanmar - Seumur hidup saya, selama 24 tahun, saya telah menjadi tahanan di penjara terbuka ini yang kalian kenal sebagai Negara Bagian Rakhine.

Saya lahir di Myanmar, seperti orang tua saya, tapi kewarganegaraan saya direnggut bahkan sebelum saya memperolehnya.

Kami menghadapi kepunahan, kecuali komunitas internasional membela kami, orang paling teraniaya di dunia, kami akan menghadapi genosida dan kalian, kalian akan ikut andil di dalamnya.

Pergerakan saya, pendidikan, akses kesehatan, dan karier dibatasi dengan ketat atas dasar etnis.

Saya dilarang bekerja di pemerintahan, dilanggar hak-haknya untuk menempuh pendidikan tinggi, dilarang mengunjungi ibu kota, Yangon, dan bahkan dihentikan ketika akan meninggalkan bagian utara negara bagian Rakhine.

Saya adalah sasaran dari bentuk diskriminasi yang terburuk, semua karena saya adalah Rohingya - Muslim Rohingya.

Selama bertahun-tahun, masyarakat saya, yang disangkal seluruh hak-hak dasarnya, dibunuh hampir setiap hari. Ditembak di depan mata, dipaksa dan secara sistematis dijadikan tunawisma, rumah-rumah kami diratakan di depan mata kami; Kami adalah korban kebrutalan negara.

Agar kalian mengerti sepenuhnya seperti apa kondisi kami, saya akan menggunakan analogi: Bayangkan seekor tikus terperangkap di dalam kandang dengan seekor kucing yang lapar. Seperti itulah Rohingya.

Cara kami bertahan hidup hanyalah lari, atau berharap seseorang membantu kami keluar.

Bagi mereka yang tetap tinggal, ada kampanye sistematis untuk memisahkan kami dengan komunitas Rakhine yang lebih luas.

Kami dipanggil "Kalar" [Bahasa hinaan terhadap Muslim] oleh warga Buddha di depan wajah kami. Tidak peduli anak-anak atau orang tua, tidak ada yang lolos dari pelecehan.

Kami menghadapi diskriminasi di sekolah dan di rumah sakit, dan ada kampanye boikot oleh warga Buddha untuk menghindari kami bagaimana pun caranya.

"Hanya membeli dari orang Buddha" kata mereka. "Jika kau memberikan uang kepada orang Buddha, digunakan untuk membangun Pagoda. Tapi jika memberi uang untuk Muslim, mereka akan bangun masjid." 

Komentar-komentar seperti ini menjadi kebiasaan dan semakin menyulut ekstremis Buddha untuk menyerang kami.
Saat Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian, memenangkan pemilu parlemen pada 2015 dan mengakhiri setengah abad dominasi militer, kami punya harapan besar perubahan akan datang.

Kami yakin wanita ini, yang dijuluki cahaya demokrasi, akan mengakhiri penganiayaan dan penindasan terhadap kami.

Sedihnya, tidak perlu lama untuk dapat kejelasan bahwa bukan hanya dia tidak akan mewakili suara kami, dia juga mengabaikan penderitaan kami.

Bungkamnya dia menunjukkan bahwa dia terlibat dalam kekerasan ini. 

Pada akhirnya, dia mengecewakan kami; asa terakhir kami, mengecewakan kami.

Tahun 2012, banyak warga Rohingya dibantai dalam salah satu kekerasan komunal terparah. Sekitar 140 ribu orang terusir, dan peristiwa ini kembali terulang pada 2016.

Ditembak, dibantai, dan dibakar hidup-hidup di depan keluarga mereka, kekerasan Oktober lalu menciptakan Tentara Penyelamat Rohingya Arakan (ARSA), sekelompok kecil pria yang memutuskan mempertahankan diri dan melawan balik.

Hanya bersenjatakan tongkat dan batu, mereka tahu tidak akan bisa menangkis tentara Myanmar yang berperalatan lengkap, tapi mereka tetap mencobanya.

Sekarang saudari-saudari dan ibu-ibu kami terpaksa melahirkan di persawahan ketika kami lari menyelamatkan diri dari kekerasan yang kalian katakan dilakukan sama-sama oleh dua kubu secara setara. Bukan seperti itu.

Anak-anak ditembaki saat mereka lari dan mayat-mayat wanita mengambang di sungai-sungai bukanlah pertempuran yang setara.

Kami menghadapi kepunahan, dan kecuali komunitas internasional membela kami, salah satu masyarakat paling teraniaya di dunia, kami akan menghadapi genosida dan kalian, kalian akan menjadi saksinya.

sumber: kumparan


loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...