Presidium Alumni 212 Minta Jokowi Usir Dubes Myanmar dari Jakarta



Penindasan terhadap umat muslim Rohingya di Rakhine yang dilakukan militer Myanmar mendapat kecaman keras dari bangsa Indonesia, selaku penduduk muslim terbesar.
Salah satu kecaman tersebut datang dari Ketua Presidium Alumni 212, Slamet Maarif. Dia bahkan meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk berani bersikap tegas kepada duta besar Myanmar di Jakarta.
“Sebagai bangsa yang beradab, kami juga meminta kepada pemerintahan Jokowi untuk mengusir duta besar Myanmar dari Indonesia dan menutup kedutaanya,” kata Slamet dalam keterangan tertulisnya, Minggu (3/9/2017).
Slamet sangat mengutuk keras perbuatan keji yang dilakukan tentara Myanmar terhadap etnis Rohingya. Dia berharap persatuan negara di Asia bersama-sama memberi sanksi tegas kepada negara tersebut.
Tindakan tegas yang dimaksud adalah permintaan kepada Komisi HAM PBB untuk mengeluarkan resolusinya. Pasalnya, ia menilai tindakan pemerintahan Myanmar telah melanggar hak asasi manusia.
“Komisi HAM PBB harus bersikap terkait pelanggaram Ham berat yang dilakukan oleh pemerintahan Aung San Suu Kyi,” sambungnya.
Selain itu, ia juga menuntut PBB untuk melakukan embargo kepada rezim Aung San Suu Kyi. Serta meminta kepada Komisi Nobel Perdamaian PBB untuk mencabut hadiah nobel yang diterima oleh Aung San Suu Kyi pada tahun 2012.
Dia juga mengimbau kepada seluruh komponen masyarakat khususnya umat Islam untuk melakukan aksi penggalangan dana untuk membantu umat Islam Rohingnya.
“Kami meminta umat Islam untuk mendukung aksi turun ke jalan mengusir duta besar Myanmar dari Indonesia,” tandasnya.
Saat ini, beberapa etnis Rohingya sudah mulai melarikan dri dari Rakhine. PBB sekarang memperkirakan bahwa 58.000 pengungsi telah berhasil menyeberang ke Bangladesh. Sementara sebanyak 20.000 etnis Rohingya lainnya diperkirakan terjebak di sepanjang sungai Naf, yang membentuk perbatasan kedua negara.

loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...