Perbedaan dalam Kesatuan, Menyikapi Tragedi Kemanusiaan Rohingya



Setiap yang berhati nurani pastilah tergerak hatinya untuk mengutuk rezim militer Myanmar yang membantai warga muslim di Rohingnya. Tragedi kemanusiaan terburuk dalam sejarah peradaban digitaliasasi ini.

Hampir setiap hari terjadi kegiatan demonstrasi di banyak belahan dunia, termasuk di Indonesia untuk menunjukkan solidaritas kemanusiaan yang menewaskan ribuan manusia dari segala macam usia dari anak-anak sampai orang tua baik laki-laki dan perempuan.

Keprihatinan yang dilakukan oleh banyak pihak dilakukan sesuai dengan organisasi masing-masing dalam mensikapi Kebiadaban ini menunjukkan ukhuwah Islam masih bisa dipertahankan.

Banyak pihak melakukan keprihatinan dengan cara sendiri-sendiri sesuai kemampuan dan kemauan dalam menyampaikan dukungan kepada muslim Rohingnya yang dibantai ini. Bentuk kegiatan yang satu dengan kegiatan yang lain dalam menyampaikan aksi banyak varian.

Satu tujuan lain cara dan metode untuk menyampaikan masalah pembantaian ini tidak perlu dibesar-besarkan karena tujuannya sama yaitu bagaimana pembantaian segera bisa dihentikan.

Sikap merasa hebat sendiri yang dilakukan satu krganisasi dalam membela muslim Rohingnya juga bukan masalah yang baik karena hal itu akan menimbulkan sifat sombong terhadap apa yang sudah dilakukan.

Sikap menghakimi dan menyalahkan dari organisasi yang lain terhadap gerakan yang sudah dilakukan juga bukan merupakan kegiatan positif karena itu justru akan menimbulkan permusuhan.

Sikap sinis terhadap apa yang sudah dilakukan oleh organisasi tertentu juga perlu dihindari karena obyek yang menjadi ladang perjuangan sudah sama, kalau masalah caranya berbeda maka itu harus dihormati.

Sikap mencemooh orang Islam lain terhadap rencana kegiatan mengepung Borobudur yang akan dilakukan oleh puluhan ormas Islam untuk Mensikapi masalah Rohingnya ini mestinya juga tidak perlu dilakukan. Semakin banyak cara dalam berjuang akan menunjukkan hasil yang sama. Ketika pola tekanan yang berlapis-lapis dengan berbagai cara akan menimbulkan hasil maksimal.

Sebagai simbol agama Budha terbesar di dunia. Gerakan mengepung candi Borobudur tentunya menjadi berita besar pada skala dunia sehingga bisa memberikan tekanan kepada negara-negara di dunia untuk bersama-sama menekan Myanmar untuk menghentikan pembantaian ini.

Ketika ada sebagian ormas yang sudah mengumpulkan bantuan dan bantuannya sudah sampai Rohingnya dan bisa membantu meringankan beban muslim di sana, hal itu jangan dijadikan untuk menjatuhkan organisasi lain yang belum bisa berbuat sejauh itu.

Ketika ada ormas yang bisa mengumpulkan dana dan bantuan milyaran rupiah juga tidak perlu mengecilkan dan mengerdilkan ormas lain yang juga berupaya sekuat tenaga untuk berpartisipasi.

Ketika ada ormas yang melakukan doa dan shalat Ghaib untuk warga muslim Rohingnya yang sudah meninggal, maka kegiatan ini harus didukung dengan baik karena apapun usaha manusia harus dibarengi niat dan doa yang ikhlas agar segera terkabul.

Ketika ada ormas yang membuka pendaftaran jihad untuk membela muslim Rohingnya, maka usaha ini juga tidak perlu diberikan tanggapan yang sinis oleh individu maupun organisasi Islam yang lain. Biarlah upaya ormas masing-masing dalam membela saudara sesama muslim menjadi kekuatan bersama

*Perbedaan Dalam Kesatuan, Mensikapi Tragedi Kemanusiaan Rohingnya* harusnya menjadi titik juang bersama dalam membela saudara seiman yang mengalami pembantaian di Myanmar ini. Kesatuan pandangan dan gerak langkah nyata sebagai tindakan kongkrit bukan sekedar beda pendapat dan pendapatan.

Banyaknya langkah nyata dari organisasi-organisasi Islam dalam bentuk yang berbeda-beda untuk membantu dana dan bantuan langsung akan semakin memperingan kesusahan mereka dan yang lebih penting karena tekanan yang kuat dari banyak negara membuat Myanmar bisa segera mengakui warga Rohingnya sebagai bagian manusia yang diakui sebagai warga negaran Myanmar. 

loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...