Kelompok Pejuang Rohingya Tantang Aung San Suu Kyi



Pemimpin kelompok pejuang Muslim Rohingya, Ata Ullah menantang Aung San Suu Kyi. Dalam tantangannya, ia berjanji akan terus memperjuangkan dan membela hak-hak etnis minoritas tersebut.

Dalam wawancara pertamanya dengan sebuah media, Ata membantah dugaan hubungan dengan kelompok jihad global. Harakah Al-Yaqin (HaY) yang dipimpinnya itu, murni bertujuan untuk mengembalikan hak-hak etnis Rohingya dan melawan penganiayaan yang dilakukan pemerintah Budhis Myanmar.

“Jika kami tidak mendapat hak kami dan apabila 1 juta, 1,5 juta bahkan seluruh bangsa Rohingya harus mati, kami siap mati,” tegas Ata Ullah, seperti dilansir oleh Reuters pada Jumat (31/03).

“Kami akan merebut kembali hak-hak kami. Kami akan berjuang melawan tirani pemerintahan militer,” sambungya.

Menurut laporan PBB yang dirilis pada Maret lalu, militer Myanmar diduga kuat telah melakukan genosida, pemerkosaan terhadap wanita Rohingya, kekerasan terdahap sipil dan sejumlah kejahatan HAM lainnya. Namun pihak militer membantah dan mengaku bahwa semua operasinya sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Myanmar.

Pada tahun 2012, kekerasan terhadap sipil Rohingya memuncak. Lebih dari sejuta Muslim di Rakhine dicabut kewarganegaraannya. Akses pendidikan dan kesehatan dipersempit. Penganut Buddha yang merupakan agama mayoritas melancarkan serangan di tahun yang sama.

Akibatnya, lebih dari 100 orang tewas dan ratusan ribu orang terpaksa mengungsi. Menurut Ata Ullah kondisi tersebut tidak berubah. Meski saat ini Myanmar secara de facto dipimpin oleh Aung San Suu Kyi, penerima nobel perdamaian dunia.

“Pada tahun 2012, banyak insiden yang terjadi. Mereka membunuh kami. Sejak saat itu, kami mengerti bahwa mereka tidak akan pernah mengembalikan hak-hak kami,” paparnya.

Kebencian yang timbul selama bertahun-tahun, membuat ratusan pemuda Rohingya bergabung dan bersimpati dengan Harakah Al-Yaqin. Kelompok itu dibentuk oleh Ata Ullah, ketika ia kembali ke Rakhine setelah beberapa tahun menetap di Bangladesh dan Arab Saudi.

“Kami tidak bisa menyalakan lampu di malam hari. Kami tidak bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Di mana-mana ada pos pemeriksaan. Itu bukan prilaku manusiawi,” ujarnya.

Meski demikian, Ata Ullah menunturkan bahwa perlawanan akan dihentikan apabila Aung San Suu Kyi berkomitmen untuk melindungi etnis minoritas Rohingya. Sebaliknya, menanggapi pernyataan HaY tersebut pemerintah Myanmar justru meminta bantuan internasional untuk melawan kelompok yang disebutnya sebagai teroris.

“Kami mendorong komunitas internasional melihat latar belakang kelompok ini, mereka terkait kelompok teroris di luar negeri,” jelas Htay. 

[kn]
loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...