Yudi Latief: Fisik Indonesia Tumbuh, Tapi Mental Miskin



Kepala Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila atau UKP-PIP Yudi Latief mengatakan, ada kontradiksi yang menghantui kehidupan bangsa Indonesia.
Menurutnya, keterpurukan bangsa dalam beberapa tahun terakhir sangat berhubungan erat dengan kontradiksi tersebut. Faktor utama yang membuat Indonesia memang tidak terlihat secara kasat mata, kata dia, terlebih kondisi ekonomi Indonesia yang terus tumbuh dalam satu dekade terakhir.
“Apa sih kurangnya bangsa ini? Kalau dari ekonomi, kita itu lima besar negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi,” kata Yudi dalam Simposium Nasional ‘Bangkit Bergerak, Pemuda Indonesia Majukan Bangsa’ di Jakarta, Senin (14/8).
Pertumbuhan ekonomi ini pun ditunjukkan dengan peningkatan jumlah gedung-gedung pencakar langit yang cukup signifikan di Jakarta sejak era reformasi. Tidak hanya itu, Yudi bahkan berkelakar dengan menyebut kemacetan yang sebelumnya hanya diidentikkan dengan Jakarta, kini telah menular ke kota-kota besar lainnya.
“Berarti kan ada pembangunan fisik,” kata dia.
Namun, di tengah kondisi demikian, ironisnya masyarakat justru semakin ciut dalam hal mental dan kejiwaan. Dia menilai, mental masyarakat Indonesia justru semakin menciut di saat kondisi ekonomi dan pembangunan sedang tumbuh.
“Jadi mana soalnya? Kita ini secara fisik tumbuh, tapi secara mental kejiwaan itu kita sedang sakit, kita ini mengalami masalah mental.”
Dia menyebut inferioritas yang dimiliki bangsa Indonesia sejatinya merupakan warisan kolonial Belanda. Pada masa penjajahan, jelasnya, semua hal yang berbau ‘londo’ memang memang menyilaukan mata masyarakat pribumi.
Hanya saja, kondisi ini justru semakin parah justru di saat Indonesia mencapai masa reformasi, masa yang dianggapnya sebagai masa perubahan Indonesia menjadi lebih baik.
Bahkan belakangan, inferiorioritas ini semakin menjadi-jadi karena faktanya masyarakat Indonesia tidak hanya minder di hadapan negara-negsra maju saja, tapi juga di hadapan negeri-negeri jiran, seperti Malaysia dan Singapura.
“Jadi pertumbuhan fisik oke, tapi kenapa dalam pertumbuhan fisik yang oke, kita justru mengalami defisit kepercayaan diri yang sangat luar biasa, belum pernah ada sepanjang republik ini berdiri.”
“Kita sering membandingkan bangsa kita ini dengan Singapura, yang benar dong? Singapura itu negara yang hanya seluas Bumi Serpong Damai (BSD) saja,” katanya seraya menyebut sebuah kawasan di Tangerang Selatan.
Hal ini justru berbanding terbalik dengan kondisi di saat Indonesia baru merdeka. Dia mengisahkan, ketika Indonesia merdeka, tidak sepeser pun uang yang dimiliki oleh negara.
Bahkan, lanjutnya, Soekarno dan Muhammad Hatta harus pulang berjalan kaki usai dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden karena memang keuangan negara tidak memungkinkan untuk menyediakan mobil kepresidenan pada 1945.
Namun, jelas Yudi, dengan segala keterbatasan tersebut, Indonesia justru menjadi negara berpengaruh di dunia. Bahkan, pada 1955, Indonesia berani mengadakan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung.
“Jadi dulu bangsa kita secara fisik tidak tumbuh, tapi dengan kejiwaan yang tinggi bisa meraih pencapaian besar dengan menjadi pemimpin dunia.”
Oleh karena itu, dia pun berharap agar pemerintah dapat menggandeng semua pihak untuk kembali mengisi dan menyembuhkan kejiwaan bangsa Indonesia. Menurutnya, kondisi mental Indonesia yang sudah kronis ini tidak akan sembuh jika terus didera konflik antar elite.
“Setiap hari kita membakar umat bangsa kita dengan sebaran kebencian di sosmed, sehingga energi positif kita habis dengan hal yang remeh remeh.”

loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...