Haduh! Novel Baswedan Diserang Secara Sistematis, Indikasinya...




Novel Baswedan,, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi menyebut penyerangan atas dirinya dilakukan secara sistimatis. Ia menunjuk sejumlah temuan dan indikasi dari kronologis penyerangan yang dialaminya. Sebagai penyidik dan bekas reserse, Novel mengaku sudah lama tahu diintai." Menurut info yang saya dengar, pengintai saya adalah polisi, " kata Novel Baswedan dalam wawancaranya dengan Tempo secara blak-blakan Juni 2017 lalu.

Novel bahkan menyadari, tak hanya diintai tapi juga dibuntuti. Bahkan tak berselang lama dari kejadian penyiraman air keras itu, Novel tahu telepon selulernya diakses pihak lain. Sepekan sebelum kejadian jahanam pada Subuh 11 April 2017 itu, ada notifikasi tak lazim yang diterima dalam ponselnya. 


Sejumlah karib Novel di KPK yang paham teknologi informasi mendeteksi hal serupa, ada device lain yang mencoba mengakses. "Sejak itu, saya tahu saya sedang dikerjain. " kata Novel Baswedan. Dari situ Novel mengaku memahami sosok yang mengincarnya, bukan perorangan tetapi mereka punya alat sadap, dan mereka punya jaringan. Mereka memiliki kekuasaan dan akses menggunakan kekuasaan.


Inspektur Jenderal Mochamad Iriawan, mantan Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya yang kini dimutasi menjadi Asisten Operasi Markas Besar Kepolisian sejak awal menduga para pelaku penyerangan telah lama mengintai Novel Baswedan. "Pelaku betul-betul sudah menggambar situasi yang ada," kata dia, 26 April lalu. 

Tempo mengumpulkan keterangan sejumlah saksi yang melibatkan beberapa orang tak dikenal sebelum Novel diserang, yang patut dicurigai sedang mengintai. Tetangga kiri dan kanan rumah Novel Baswedan bersaksi, Novel Baswedan sudah diincar lama. Ada sejumlah orang mengamati rumah Novel, termasuk kebiasaan salat subuh di Masjid. 

Bahkan sehari sebelum serangan pada Selasa subuh, 11 April lalu, sejumlah saksi yang ditemui Tempo mengaku melihat dua orang yang diduga mengamati kegiatan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi tersebut. Seorang di antaranya mendatangi keran wudu di Masjid Al-Ihsan tempat Novel biasa salat berjemaah.

"Mereka sudah ada di situ sebelum subuh," kata seorang saksi, yang melihat orang itu. Demi alasan keamanan, saksi itu menolak jika identitasnya disebutkan. Saksi menyebutkan lelaki itu "mukanya terawat seperti model". 



Saksi lain melihat pria yang sama beberapa saat kemudian di ujung gang, tak jauh dari rumah Novel. Pria lainnya, kata saksi itu, menunggu di atas sepeda motor mengenakan helm. "Saya bingung, ngapain pagi-pagi ada orang nongkrong," katanya.


Ilustrator Tempo memvisualisasi keterangan para saksi itu. Ia memperkirakan usia orang itu 35 tahun, berkulit putih-bersih, dengan kumis tipis, dan berambut panjang. "Dia berdiri dekat tempat wudu, tapi tidak sedang wudu karena lengan jaketnya tidak digulung," kata saksi itu.



Perawakan pria setinggi 170-an sentimeter itu serupa dengan orang berhelm yang bersama lelaki lain berada di dekat masjid, beberapa saat sebelum Novel diserang. Kedua orang itu diduga kuat menyiramkan air keras ke wajah Novel setelah menunaikan salat subuh. Tempo pekan ini mempublikasikan sketsa wajah seorang di antaranya.

Senin 31 Juli 2017 lalu, setelah bertemu dengan Presiden Joko Widodo, Kepala Kepolisian RI Tito Karnavian untuk pertama kalinya menunjukkan kepada publik sketsa wajah yang dibuat penyelidik kepolisian tentang orang yang diduga sebagai penyerang Novel.



"Diduga dia adalah pengendara sepeda motor penyerang," kata dia di Istana Kepresidenan. Sketsa buatan tim kepolisian memiliki sejumlah ciri fisik serupa dengan ilustrasi Tempo. Menurut Tito, Presiden Joko Widodo meminta agar kasus ini segera dituntaskan.




Bukti lain adalah  cctv di rumah Novel Baswedan, merekam lelaki gempal yang wara-wiri. Lelaki itu sempat masuk dan bertanya soal baju gamis kepada pembantu Novel Baswedan, yang lupa menutup pintu.



Ketua Tim Investigasi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia untuk kasus Novel, Maneger Nasution, mengatakan hasil pemeriksaan sementara timnya menyimpulkan penyerangan terhadap Novel Baswedan, diawali dengan pengintaian secara terstruktur. "Kami menduga para pelaku kejahatan ini sudah terlatih," ujarnya.    


loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...