Gerindra Nilai Pidato Ekonomi Jokowi Tak Sesuai di Lapangan



Elite Gerindra mengkiritisi pidato Presiden Joko Widodo terkait pencapaian sektor pertumbuhan ekonomi nasional. Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Fadli Zon menyindir ucapan Jokowi tak semuanya sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Fadli mengingatkan masih banyak ketimpangan antara masyarakat miskin dengan kaya. "Saya kira masih banyak masyarakat kesulitan, hidupnya makin susah. Tadi ada ketimpangan. Itu ketimpangan kan ukurannya berbeda. Bukan karena pendapatan masyarakat semakin dekat antara yang kaya dan miskin. Yang menengah ke atas ini makin turun sehingga mendekati  ke arah yang miskin," kata Fadli di gedung DPR, Jakarta (16/08).

Hal senada dikatakan Sekretaris Jenderal DPP Gerindra, Ahmad Muzani. Menurut dia, pidato Jokowi memang menunjukkan kesungguhannya dalam mewujudkan janji kemerdekaan di banyak sektor.

Namun, yang perlu dilihat saat ini adalah kondisi di masyarakat. Ia menilai daya beli masyarakat makin menurun. "Tapi, daya beli masyarakat makin rendah, pedagang mengeluh sepi, pengangguran makin bertambah, investasi menurun, angkatan kerja baru dari negeri orang makin bertambah untuk kerja kasar sekalipun," kata Muzani pada kesempatan terpisah.

Ia menambahkan, daya saing tenaga kerja Indonesia juga melemah. Lalu banyak produksi lokal yang tak laku termasuk garam. Ia menghargai kesungguhan pemerintah, tapi yang disampaikan presiden dianggap belum sesuai kenyataan.

"Soal hasil saya kira kita lihat sendiri, yang dimunculkan angka pertumbuhan, gini ratio, semua tak bermakna. Karena pertumbuhan ekonomi 5 atau 6 itu secara keseluruhan, tidak menggambarkan yang dinikmati banyak orang," tutur Muzani. 

[itc]
loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...