Gara-Gara Viktor, Jokowi-SBY Disarankan Gelar Pertemuan Jilid Kedua



Pidato politikus Partai Nasdem Viktor Laiskodat yang menyebut sejumlah partai mendukung gerakan radikal membuat situasi politik kembali memanas. Pertemuan Presiden Jokowi dan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono diyakini bisa meredam tingginya tensi saat ini.

“Kita tentu tidak menginginkan suasana kesejukan bangsa terganggu dengan statement brutal dan fitnah keji seperti yang dipertontonkan Viktor secara telanjang, membuat suasana makin keruh,” kata Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago dalam siaran tertulis yang diterima Kriminalitas.com, di Jakarta, Minggu (6/8/2017).

Oleh karena itu, Pangi berpendapat perlu adanya pertemuan jilid kedua antara Jokowi dan SBY sebelum peringatan 72 tahun kemerdekaan Indonesia.

“Dengan harapan, pertemuan dari kedua tokoh tersebut bisa menurunkan tensi politik yang kian memanas,” tutur Pangi.

Menurutnya, pertemuan dua tokoh tersebut setidaknya bisa menyejukkan suhu politik. Ia mengambil contoh mantan Presiden AS, Barack Obama, dan penggantinya, Donald Trump, yang kerap bertemu setiap ada persoalan kebangsaan yang serius.

Pangi menuturkan, pertemuan SBY dan Jokowi bisa membahas sejumlah hal yang belum memiliki titik terang, terdapat perbedaan sudut pandang, perspektif, dan belum adanya jalan keluar serta terkesan ada perbedaan pendapat yang cukup tajam seperti soal UU Penyelenggaraan Pemilu.

Diketahui, Viktor Laiskodat dalam pidatonya di Kupang, NTT Beberapa waktu lalu menyebut Partai Demokrat, Gerindra, PKS dan PAN mendukung gerakan radikal yang menginginkan NKRI diganti menjadi negara khilafah. Bahkan Viktor menyebut kader partai yang mendukung gerakan radikal itu pantas dibunuh.

loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...