Bukan Tempat Radikal, Menag: Masjid Kampus Pusat Ilmu Pengetahuan



Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, sudah sepantasnya masjid-masjid kampus menjadi pusat mengembangkan ilmu pengetahuan terutama ilmu keislaman, apalagi didukung oleh kemajuan teknologi dan komunikasi, bukan malah disebut sebagai tempat aktivitas radikal.

“Peran masjid kampus, bagaimana pun sekarang kampus menjadi pusat untuk bagaimana mengembangkan peradaban karena sekarang adalah era teknologi informasi komunikasi, jadi ilmu pengetahuan dan teknologi itu adalah sangat penting,” kata Lukman, di Jakarta, Selasa (15/8).

Menag berpendapat, sangatlah relevan jika ilmu pengetahuan dan agama tersyiar lewat masjid kampus. Menurut dia, perguruan tinggi memiliki peran besar dalam mengembangkan ilmu keislaman.

“Dan perguruan tinggi memiliki peran yang sangat besar dan mesjid kampus lalu menjadi sangat relevan bagaimana Islam bisa dikembangkan melalui masjid-masjid yang ada di pusat-pusat ilmu pengetahuan yang itu adalah perguruan tinggi kita,” tegas dia.

Lukman juga menjelaskan soal konsep Wasatiyah, yaitu Islam moderat yang telah diajarkan dan dikembangkan di kampus-kampus, bukan Islam yang disyiarkan oleh orang tidak bertanggung jawab untuk kepentigan individu.

“Jadi sebenarnya Islam itu ya wasatiyah itu, Islam itu ya moderat itu, kalau ada orang mengklaim Islam tapi tidak moderat, dia tidak wasatiyah, sebenarnya dia bukan ‘Islam’. Belakangan ini kan Islam dibajak oleh pihak-pihak tertentu yang sebenarnya hanya mengatasnamakan Islam saja tapi sebenarnya tujuan-tujuannya adalah tujuan pribadi, tujuan kelompok, tujuan untuk golongan atau kelompoknya saja tapi lalu menggunakan agama sebagai alat justifikasi,” urai Lukman.

loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...