Bisnis Ritel Milik Sembilan Naga Mulai Ditinggalkan Konsumen




Bisnis gerai ritel Hypermart milik PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) mulai goyah. Manajemen perusahaan dalam kelompok usaha Lippo ini telah mengajukan permohonan keterlambatan pembayaran utang kepada para supplier akibat penjualannya lesu.

Corporate Secretary MPPA Danny Kojongian mengakui, memang saat ini bisnis perseroan tengah lesu seiring melambatnya perekonomian Indonesia. Bisnis ritel saat ini, kata dia, sangat terpukul.

“Kita tahu market lagi sulit, jadi korespondensi meminta kelonggaran itu wajar. Itu korespondensi biasa, kita baru nanya, boleh enggak? (pembayaran utang diundur). Itu bukan sesuatu yang sudah diputuskan,” ungkap Danny.

Seperti diketahui, sekitar 30 supplier Hypermart melakukan mediasi dengan perwakilan MPPA yang diwadahi Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan. Mereka mengeluh karena masih ada tunggakan yang belum dibayarkan oleh manajemen Hypermart.

“Intinya mereka mengeluh, ada payment yang masih pending. Itu saja sih sebenarnya. Bukan berarti kita mau kolaps dan enggak bisa bayar,” jelas Danny, Kamis (24/8) yang dilansir media.

Dia pun mengakui bahwa memang ada beberapa pembayaran yang belum diselesaikan. Menurutnya, hal ini karena manajemen masih membutuhkan waktu untuk proses verifikasi data.

“Jadi sebelum itu data harus diverifikasi, kelengkapan data, dokumen pendukung dan sebagainya. Dari situ, baru bisa masuk ke proses settlement dan pembayaran. Jadi masih dalam tahap on going,” imbuh dia.

Meski demikian, Danny memastikan manajemen telah berkoordinasi dan memutuskan bahwa tunggakan tersebut akan diproses paling cepat pekan depan. Dia pun menegaskan saat ini kondisi keuangan Hypermart baik dan mampu membayar tunggakan tersebut.

“Bisnis kita kan skalanya triliunan rupiah. Sedangkan ini isu yang puluhan miliar saja. Jadi skalanya sangat kecil sekali. Jadi bukan berarti mulai kolaps, enggak mungkin,” tandasnya. 

loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...